Tampilkan postingan dengan label gladikarya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gladikarya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2011

Catatan Gladikarya (Serie 8)


Gladikarya
Hari ketiga puluh
Peternakan susu perah Kampung Cibolang Kertawangi

Pada tulisan terdahulu telah disampaikan tentang potensi yang dimiliki kampung Cibolang meliputi karakteristik dan sumberdaya yang dimiliki. Jalan pagi yang dilakukan di hari ke-30, telah memperlihat secara langsung peternakan susu yang diolah secara tradisional oleh masyarakat Kampung Cibolang. Kampung Cibolang dan segala potensinya sejauh ini masih membutuhkan bimbingan dari pihak-pihak terkait didalam meningkatkan produksi dan mencapai tingkat efisiensi. Tulisan ini dibuat hanya sebagai pendapat pribadi yang dilihat secara observasi di Masyarakat.

Pagi di hari ke-30, saya menyempatkan mengunjungi kandang yang di miliki pak Suyatno. Beliau adalah peternak sapi perah kampung Cibolang dengan jumlah 17 ekor sapi, namun hanya 10 ekor yang dapat diperah karena yang lainnya dalam masa bunting dan merupakan sapi jantan. Setiap pagi, susu yang hasilkan berkisar pada rataan 80 liter dan sore hari mencapai 40 liter. Sehingga dapat di lihat total rata-rata perhari susu yang dihasilkan mencapai 120 liter yang diperhari dari 10 ekor sapi. Sehingga dapat dilihat bahwa rata-rata yang dihasilkan per ekor mencapai 12 liter per hari.

Produktivitas susu perah kampung Cibolang yang mencapai 12 liter per ekor menunjukan potensi yang masih bisa ditingkatkan dengan baik apabila dapat ditangani dengan tepat. Pakan yang diberikan terlihat seadanya dimana pohon pisang menjadi salah satu pakan dominan yang ada. Sedangkan hijauan terlihat komposisinya sangat kurang berikut juga seperti konsentrat. Akan tetapi dari segi ketersediaan air sangat melimpah sehingga terpenuhi kebutuhannya.

Kondisi pakan yang kurang baik menurut saya sepintas disebabkan mutu pakan yang kurang baik. Hijauan dan konsentrat yang kurang dari kebutuhan menyebabkan kualitas yang tidak terlalu baik. Memang terlihat bahwa tidak terlihat lahan di sekitas kampung cibolang yang membudidayakan rumput gajah yang merupakan salah satu hijauan yang sering digunakan. Sebagian besar hijauan berasal gulma kebun. Bahkan setiap harinya hanya terlihat pengangkutan pohon pisang yang telah ditebang yang memang ditujukan sebagai pakan ternak. Padahal kita tahu bahwa penggunaan pohon pisang sebagai pakan akan mengakibatkan kualitas susu yang kurang baik, dimana kandungan air akan berlebih dari susu yang dihasilkan.

Kondisi realita pertanian di Indonesia sebagian besar menunjukan cerita yang sama dengan beragam versi yang berbeda. Ciri khas yang ditampilkan adalah usaha dilakukan dalam skala kecil bahkan subsisten, dilakukan secara tradisional, pelaku rata-rata hanya lulusan sekolah dasar dan di dominasi oleh orang tua. Hal tersebut pun terlihat di kampung ini. Ternak yang dimiliki rata-rata hanya 2-3 ekor per usaha ternak (bahkan ada yang hanya 1 ekor), dilakukan dengan sangat tradisional (kandang tidak layak seperti didepan rumah dan pakan yang terkesan asal-asalan), berpendidikan rendah, dan didominasi oleh orang tua.

Gladikarya mengajarkan kepada saya bahwa realita pertanian di Indonesia sungguh membutuhkan perjalanan yang dipercepat guna tercapainya kesehteraan bangsa. Pertanian sebagai base sector didalam pembangunan bangsa sejauh ini telah terabaikan pengelolaannya. Di butuhkan “petani muda”, yaitu sarjana pertanian, peternakan, perikanan maupun kehutanan yang terjun ke masyarakat sehingga pertanian Indonesia akan terarah dengan baik dan mampu mengejar ketertinggalan yang telah lama terjadi. Ayo sarjana!!!, mari membangun desa.

Minggu, 17 Juli 2011

Catatan Gladikarya (Serie 7)


Gladikarya
Hari kedua puluh dua
Manajemen Rantai Pasok (SCM) bagi Petani


Manajemen Rantai Pasok atau Supply Chain Management (SCM) merupakan model terbaru didalam mengintegrasikan setiap unit produksi didalam sistem produksi. Model menjadi kajian menarik didalam menyediakan input produksi secara tepat (waktu, kualitas, kuantitas, dan tempat) hingga produ dapat disajikan dengan baik di tengah masyarakat. Secara sepintas, tidak ada perbedaan yang sangat besar diantara Manajemen Rantai Pasok dengan Sistem Agribisnisn yang kita pelajari selama ini.

Seperti halnya Sistem Agribisnis, manajemen rantai pasok atau yang lebih dikenal dengan SCM menyajikan integrasi yang kuat diantara para pelaku. Informasi pasar mampu menjadi patokan didalam kebijakan unit produksi lainnya didalam rantai pasok tersebut. Oleh karena itu, informasi merupakan syarat didalam terlaksananya manajemen rantai pasok yang baik.

Informasi berupa permintaan konsumen merupakan sinyal pertama didalam penentuan kebijakan unit produksi yang harus disampaikan distributor kepada pelaku pengolahan produk. Apabila kita ibaratkan hal tersebut ada didalam usaha pertanian, informasi distributor kepada unit pengolahan akan berdampak pula pada bidang usahatani (onfarm). Pada akhirnya perubahan tersebut pun akan mempengaruhi penyedia input.

Melalui tulisan ini, saya akan mengilustrasikan pentingnya informasi didalam kemitraan. Model ini mungkin bukan contoh langsung dari aplikasi manajemen rantai pasok, akan tetapi akan menunjukan pentingnya informasi dan akan sangat terasa penting bila diaplikasikan sistem manajemen rantai pasok.

Pengalaman ini di ambil dari kisah nyata sorang petani muda di Bandung. Pak Tufodil merupakan salah satu petani muda yang bekerja keras didalam bisnisnya yaitu dibidang usahatani (on farm). Mas fadil (nama panggilan) merupakan lulusan salah satu universitas di Sumedang ini hampir selalu mencoba berbagai jenia usahatani seperti sayuran hingga saat stabil di bidang jamur tiram. Beliau menceritakan kepada kami betapa pentingnya informasi bagi petani.

Beberapa tahun yang lalu mas fadil berbudidaya kentang atlantis yang merupakan salah satu bahan baku industri. Beliau menjual hasil produknya ke Semarang yang merupakan pabrik pusat snack barbahan baku kentang tersebut. Budidaya dilakukan dengan baik dan hasil produksinya memiliki kontrak dengan perusahaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan kapasitas pabrik.

Budidaya berjalan dengan baik dan menghasilkan kentang dengan kualitas yang menjanjikan. Ukuran kentang yang dihasilkan bahkan berukuran dengan rata-rata sangat besar, bahkan berukuran sebesar kopiah yang digunakan ketika shalat. Hasil yang cukup menjanjikan, mengingat kualitas dan kuantitas yang cukup besar menurut beliau sebagai petani. Penuh rasa percaya diri dari hasil yang dicapai, mas fadil membawa empat truk kentang tersebut ke pabrik yang berada di kota Semarang Jawa Tengah.

Perjalanan telah dilaksanakan, namun menghasilkan kekecewaan. Kentang dengan rata-rata ukuran diluar ukuran kentang lokal tersebut ditolak masuk ke pabrik dengan alasan tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. Beliau dengan melihat kondisi kentang yang berkualitas baik dan memiliki ukuran yang cukup besar merasa kebingungan dengan bentuk penolakan tersebut. Akhirnya beliau meminta penjelasan jebiih jauh.

Beliau akhirnya diajak ke pabrik pengolahan makanan ringan berbahan baku kentang tersebut. Kentang dengan ukuran yang cukup baik tersebut ternyata masuk dan mampu mengikuti proses pengolahan yang dilakukan mesin. Setiap tahan dapat dilalui dengan baik seperti pencucian hingga pada pemotongan. Ternyata pada saat pemotongan, kentang atlantis yang berukuran besar tersebut kosong pada bagian dalamnya bila dipotong melintang. Tentu nilai dari kentang tersebut tidak bisa masuk kedalam klasifikasi kentang yang dicari. Bahkan, kentang yang bolong tersebut pada saat pencobaan penggorengan ternyata menyebabkan kegosongan dibandingkan dengan kentang yang lainnya.

Hal ini terjadi disebabkan tidak adanya informasi yang jelas bagi petani mengenai klasifikasi yang dibutuhkan oleh unit pengolahan. Klasifikasi yang dibutuhkan seperti ukuran tidak pernah diperoleh petani. Apabila hal ini terus terjadi, maka kedua pihak tersebut akan menanggung kerugian yang sangat berdampak. Industri pengolahan mengalami kerugian didalam persediaan kentang yang dibutuhkan. Seperti kita ketahui bahwa kapasita pabrik memiliki kapasitas yang sangat besar untuk dipenuhi setiap harinya. Apabila kapasitas tersebut tidak dipenuhi, maka merupakan sebuah biaya bagi perusahaan.

Kerugian terbesar tentu diderita oleh petani. Jumlah panen yang dihaslikan dan merupakan kerja keras selama beberapa waktu pada akhirnya tidak memiliki nilai di pasar. Petani tentu merasa dipermainkan. Pada akhirnya kentang tersebut dijual di pasar tradisional dengan harga yang rendah. Hal tersebut merupakan cara terakhir yang ditempuh walaupun sangat merugikan karena di jual di bawah harga standar.
Hal ini seharusnya tidak terjadi apabila terjadinya aliran informasi yang baik dari konsumen kepada produsen. Industri sebagai pengguna hasil produksi harus memberitahukan secara baik klasifikasi yang memang dibutuhkan. Informasi tersebut pada akhirnya menentukan kebijakan petani sebagai penyedia input industri tersebut didalam penyediaan kantang. Informasi dapat dilihat pada kasus ini merupakan kunci didalam menjalin kerjasama. Oleh karena itu, tidak salah apabila informasi menjadi ciri utama didalam Manajemen Rantai Pasok.

Sabtu, 09 Juli 2011

Catatan Gladikarya (Serie 6)


GLADIKARYA
Hari ke sebelas.
Coretan Gladikarya

Gladikarya merupakan kegiatan mahasiswa Departemen Agribisnis didalam mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya di tengah masyarakat. Segala kemampuan mahasiswa yang diperoleh dikelas akan diuji ditengah masyarakat, dan tentunya kegiatan ini akan menunjukan kemampuan mahasiswa didalam bermasyarakat. Kita sama ketahui, bahwa lingkungan dunia akademik kadang sangat jauh berbeda dengan kondisi real di masyarakat. Kegiatan Gladikarya memiliki bobot 3 SKS dan wajib diambil oleh seluruh mahasiswa Departemen Agribisnis.

Dalam kegiatan sebelas hari yang telah saya lewati, terdapat beberapa pelajaran yang dapat dipetik dan akan berguna di kehidupan pasca kampus. Poin terpenting yang saya ambil adalah bahwa idealisme tidak selalu berlaku di kondisi kehidupan. Apa yang kita rencanakan dengan baik, kadang mengalami perubahan yang harus kita lakukan. Apa yang kita pikirkan, kadang akan bersinggungan dengan orang lain. Nilai budaya, kepercayaan, moral, dan rasa hormat menjadi faktor yang harus selalu diperhatikan.

Pendekatan yang dilakukan terhadap objek program gladikarya harus menjadi perhatian. Jadwal telah disusun dan lokakarya telah dilaksanakan, akan tetapi bukan berarti itu merupakan hal fixed yang akan dilaksanakan. Rencana tersebut harus kita patuhi apabila telah disusun, akan tetapi bukan merupakan satu kekakuan didalam pelaksanaan. Nilai-nilai harus diperhatikan. Deadline yang biasa kita terapkan secara disiplin di dunia kampus, kadang tidak mempan didalam kehidupan.
Saya tidak mengbenarkan pengingkaran terhadap jadwal yang telah kita buat sendiri. Akan tetapi ketika akan kita sampaikan, kadang harus melihat realita yang terjadi. Pelajaran penting lainnya dari mahasiswa yang terjun di masyarakat adalah kemampuan membaca situasi. Kadang responden atau objek program belum tentu siap dengan apa yang akan kita sampaikan. Kesalahan waktu penyampaian dikhawatirkan merusak image kita didepan objek program. Kesalahan tersebut sangat dikhawatirkan akan menyebabkan keenganan dan sikap menghindar dari calon peserta /objek program.

Kebijakan dan dunia nyata
Kasus tersebut didunia nyata kadang terjadi. Pembuat kebijakan dengan gagah dan penuh analisi menentukan program bagi masyarakat. Riset dilakukan dengan baik ataupun berdasarkan pesanan. Kebijakan-kebijakan pemerintah dengan segala alasan yang luar biasa dan ekspektasi yang hebat kadang mentah apabila telah turun di masyarakat. Pembuat kebijakan merupakan orang pintar bahkan cerdas. Akan tetapi pembuat kebijakan kadang terlalu kaku dengan patron ataupun aturan-aturan yang dibuatnya sendiri. Hal tersebut yang menyebabkan mereka kadang lupa mengkaji aspek psikologis.

Studi kasus tersebut dapat kita lihat pada pelaksanaan Raskin (beras miskin) dan Ujian Nasional (UN) di Indonesia . Dua kebijakan tersebut dibuat dengan mekanisme yang luar biasa bagus dan memiliki tujuan mulia. Raskin diupayakan untuk diberikan kepada masyarakat miskin dengan tepat sasaran guna menjamin akses terhadap pangan. Ujian Nasional merupakan kebijakan Pemerintah didalam meningkatkan standar pendidikan masyarakat.

RASKIN
Beras miskin adalah beras yang diperuntukan untuk masyarakat miskin yang dikeluarkan pemerintah guna menjamin ketahanan pangan masyarakat kurang beruntung. Pemerintah dengan kebijakannya bermaksud baik dengan menyebar dihampir seluruh desa dan kota di seluruh Indonesia. Dari beberapa sumber dikatakan bahwa harga yang tetapkan sebesar Rp 1.600,00 dengan ketentuan setiap kepala keluarga diberikan sebesar 20 kilogram. Akan tetapi, terdapat beberapa masalah yang terjadi di masyarakat.
Masalah pertama adalah adanya peningkatan harga beras ketika sampai di tangan masyarakat miskin tersebut. Harga kadang jauh dari patokan yang ditentukan dan tidak didistribusikan seperti seharusnya. Hal tersebut berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang belum memikirkan sampai di akar masyarakat.
Peningkatan harga bila dicermati disebabkan oleh dua hal. Hal pertama adalah pemerintah tidak menjamin biaya distribusi hingga di keluarga miskin. Pemerintah hanya member biaya distribusi hingga kantor kecamatan di masing-masing daerah. Padahal apabila kita lihat lagi, beras tersebut perlu redistribusi ke tingkat desa hinga rumah tangga. Perlu biaya lagi yang terdiri dari transportasi yaitu biaya kendaraan maupun buruh angkut. Sejauh ini belum ada perhatian pemerintah akan hal tersebut. Penyebab kedua adalah moral hazard dari pelaksana di akar rumput akibat hal pertama yang tidak terpenuhi. Tidak adanya biaya distribusi mengakibatkan aparat desa mampu dengan sewenang- wenang menentukan harga yang memberatkan dengan alibi tidak adanya biaya pendistribusian. Hal tersebut yang mengakibatkan terjadinya penyelewengan.

Selain itu, hak warga miskin untuk memperoleh Raskin sebanyak 20 kilogram kadang tidak bisa dilakukan. Hal ini tidak hanya disebabkan penyelewengan yang terjadi, melainkan realita yang ada. Pendistribusian Raskin yang tidak menentu menyebabkan keluarga yang berhak tidak mampu membeli sebanyak seharusnya. Kadang masyarakat hanya mampu 5 kilogram yang jauh dari haknya sebesar 20 kilogram. Disamping itu, aparat pemerintah desa harus secepatnya menjual guna mampu membayar raskin yang didistribusikan. Hal tersebut yang menyebabkan penjualan dilakukan kesiapa saja bahkan ke pihak yang tidak berhak. Terdapat banyak koreksi yang harus menjadi evaluasi kedepan. Masalah kualitas, mekanisme dan penyelewengan lainnya terlalu banyak dan harus segera ditinjau.

Ujian Nasional (UN)
Ujian nasional yang dilakukan di seluruh Indonesia merupakan salah satu terobosan didalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Sesuai dengan fitrahnya bahwa kenaikan tingkatan harus dibarengi dengan satu bentuk ujian. Ujian diharapkan mampu menjadi salah satu bentuk evaluasi didalam meningkatkan kualitas yang diharapkan. Sayang sekali, di negara ini ujian nasional merupakan mimpi buruk yang kadang meninggalkan trauma bagi sebagian siswa di Indonesia.
Standarisasi yang ingin pemerintah lakukan di seluruh Indonesia sejauh ini belum dapat dilakukan. Indonesia dengan jumlah sekitar 17.000 pulau belum mampu memberikan kualitas pendidikan dengan standar yang sama diseluruh pelosok negeri. Tidak adil apabila kita meratakan standar kelulusan diantara siswa yang belajar di Jakarta dengan siswa yang berangkat kesekolah tanpa alas kaki di salah satu pulau terluar Indonesia. Satu bentuk kebodohan apabila kita melakukan standar yang sama dengan siswa di kota besar yang akrab dengan akses informasi melalui internet dengan siswa yang bersekolah di pulau yang bisa diakses dengan kapal boat selama 7 jam.

Efek kebijakan yang baik namun tidak tepat tersebut memberikan dampak yang sistemik bagi kementalan sebagian besar masyarakat Indonesia. Beberapa waktu lalu kita melihat pengusiran pengungkap contek masal di Jawa timur. Salah satu bentuk kejujuran dicoba diredam guna kepentingan sesaat oleh sebagian besar masyarakat. Kecurangan yang tentu tidak terpuji dibiarkan dan dianggap biasa guna meluluskan sebagian besar lainnya. Kasus contek atau kebocoran soal telah mejadi rahasia umum. Ujian nasional pada akhirnya mengajarkan sikap siswa yang ingin memperoleh hal instan tanpa berusaha lebih baik ataupun sikap menghalalkan segala cara. Tidak salah bahwa di masa depan bangsa ini akan dipimpin oleh koruptor-koruptor cilik lainnya.

Kebijakan pemerintah pada intinya bertujuan untuk mengsejahterakan masyarakat. Tidak bisa kita tampikan kebaikan pemerintah didalam penentuan kebijakannya. Apabila kita melihat dari fitrah kebijakan, kebijakan merupakan sebuah perubahan. Dan didalam hukumnya, sebuah perubahan akan menghasilkan pihak yang dirugikan dari perubahan tersebut. Yang harus dilakukan pemerintah adalah menekan kerugian yang terjadi dengan meningkatkan benefit bagi masyarakat luas.
Pelajaran yang bisa kita petik adalah sehebat apapun teori yang kita siapkan akan tidak selalu sesuai dengan kenyataan dilapangan. Kecermatan berpikir dan perpaduan dengan kondisi lapangan yang meliputi nilai-nilai dimasyarakat harus dipadukan. Asumsi bisa dibangun dengan fondasi kenyataan dilapangan, bukan merupakan ekspektasi semata. Semoga bermanfaat.

Rabu, 29 Juni 2011

Catatan Gladikarya (Serie 3)


GLADIKARYA
Hari ketiga
Hari ketiga bertepatan dengan hari besar keagamaan “isra miraj” yaitu tanggal 29 Juni 2011. Dengan berbagai tujuan yang telah tersusun, maka hari ini kami agendakan untuk mengunjungi Ketua Gapoktan Jamur Tiram Kertawangi yaitu Bapak Ajang Taryana. Beliau merupakan salah satu perintis usaha Jamur Tiram di Desa Kertawangi .

Kunjungan kami lakukan pada pukul 08.30 wib ke rumah beliau di kampung Cibadak Kertawangi. Bertemu beliau membutuhka sedikit kesabaran mengingat kesibukan beliau yang sedang mengelola tempat usahanya. Beliau dengan keramahan dan kesahajaannya menerima dengan baik. Pada hari ini, kunjungan hanya dilakukan saya dengan TB.

Pembicaraan dengan beliau sangat menarik. Beliau memberikan informasi yang sangat berguna yang berhubungan dengan kondisi petani jamur, Gapoktan, sejarah jamur tiram di kertawangi, hakikat hidup, budaya dan keagamaan yang ada di Desa Kertawangi. Beliau menjadi narasumber yang menarik dan mampu memberikan gambaran dengan maksimal dari keadaan desa kertawangi.

Poin dari pembicaraan dengan Pak Ajang mengenai Jamur Tiram adalah adanya Gapoktan Jamur Tiram Kertawangi. Beliau menguraikan secara transparan mengenai keadaan Gapoktan dan tentu saja memberikan informasi yang sangat penting. Gapoktan Jamur tiram usiannya sangat muda dibandingkan dengan usaha jarum tiram itu sendiri. Gapoktan baru berumur sekitar tiga bulan dan budidaya jamur tiram sudah dimulai dari tahun 1982. Sangat tidak adil apabila kita bandingkan secara langsung.

Gapoktan sejauh ini belum mampu memberikan pengaruh dan manfaat bagi anggotanya. Pak Ajang berpendapat bahwa pembentukan tersebut dikhawatirkan hanya sebagai alat guna mengalirkan bantuan pemerintah. Tujuan pembentukan Gapoktan hanya sebagai ajang menarik bantuan sangat bertentangan bagi pak Ajang. Keberatan berasal dari niat yang tidak baik, sehingga beliau sangat takut mempertanggung jawabkannya baik di dunia maupun di akhirat. Gapoktan yang terbentuk diharapkan berasal dari keinginan anggota. Akan tetapi, sejauh tingkat partisipasi anggota sangat rendah sehingga setelah tiga bulan berjalan belum menunjukan pergerakan sama sekali.

Informasi lainya yang cukup penting adalah tingkat persaingan dan over supply jamur di pasar mengakibatkan nilai yang rendah apabila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Tingkat persaingan dapat diartikan semakin terbukanya informasi mengakibatkan meningkatnya pelaku usaha jamur tiram. Usaha tersebut meliputi pengusahaan oleh rakyat maupun secara korporat. Selain itu, kendala yang dihadapi adalah semakin banyaknya pengusaha jamur tiram, mengakibatkan over supply. Tentu saja sesuai hukum ekonomi bahwa meningkatnya jumlah akan mengakibatkan turunnya harga. Pada harga tertentu akan ngakibatkan turunnya pendapatan anggota. Secara data, memang ditunjukan bahwa tingkat permintaan jamur tiram sangat tinggi. Akan tetapi data agregat terebut hanya menjadi permintaan semu pada tingkat mikro seperti permintaan jamur bagi desa Kertawangi.

Terdapat banyak informasi yang diperoleh dari beliau hari ini. Informasi tersebut meliputi gapoktan hingga kondisi keagamaan di desa kertawangi dengan segala tantangannya. Saya secara pribadi mulai melihat program yang tepat meliputi :

1. Penguatan kelembagaan
Penguatan kelembagaan sangat dibutuhkan didalam merintis gapoktan. Penguatan kelembagaan dapat dilakukan dengan melakukan pembimbingan yang berasal dari PPL, akademisi maupun pembelajaran dari gapoktan yang dianggap sukses.

2. Pelatihan Manajemen dan administrasi organisasi
Dengan usianya yang sangat muda, gapoktan ini belum terlihat memiliki manajemen dan administrasi organisasi yang cukup baik. Struktur organisasi terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara. Sejauh ini pembagian tugas belum terlihat. Pelatihan ini diharapkan mampu memberi arahan pelaksanaan organisasi gapoktan yang tepat sesuai amanah yang dimilikinya.Selain itu, pelatihan ini diharapkan mengurangi sikap pesimis dari ketua gapoktan.

3. Pelatihan budidaya jamur kuping
Pengembangan budidaya jamur tiram tidak harus hanya terkonsentrasi pada produk itu saja. Diversifikasi produk diharapkan mampu mulai ditempuh. Hal ini dilaksanakan guna melindungi jamur tiram dari over supply yang pada akhirnya akan mengurangi nilai dari jamur tersebut dan berdampak pada pendapatan petani. Diversifikasi produk pun diarahkan pada pengurangan risiko produksi dan pasar. Benar, petani akan sulit untuk diarahkan. Akan tetapi, upaya sudah harus dilakukan. Diharapkan adanya pelaku yang mencoba, karena apabila terdapat pihak yang mencoba dan menunjukan keberhasilan dibidang produksi dan ekonomi maka para petani dengan sendirinya akan menduplikasi.


Informasi lainnya adalah kebutuhan akan laboratorium bagi pembibitan dan meningkatkan produksi jamur tiram. Proyek yang sangat besar apabila kita mampu membantu pengadaan laboratorium untuk jamur tiram. Oleh karena itu, saya memiliki pemikiran untuk mengintegrasikan dengan program LM3 Kementrian Pertanian. Pengadaan dapat dilakukan dengan menggandeng Pesantren Darul Innayah. Selanjutnya program akan menjadi proyek berkelanjutan dari Kementrian Pertanian.

Integrasi ini dapat dilakukan dengan melihat tingkat kebutuhan dari Darul Innayah yang disampaikan Abi pada hari kedua Gladikarya. Beliau menyampaikan bahwa warga membutuhkan pusat pembuatan log. Adanya perusahaan pembuatan log memberikan dampak negatif berupa keenganan petani dalam memproduksi log sendiri. Saat ini perusahaan pembuatan log mejadi dilemma di desa ini. Perusahaan banyak yang failed dan meninggalkan hutang bagi warga yang nominalnya mencapai milyaran rupiah.
Saya berpikir bahwa Program Lembaga Mandiri yang Mengakar di Masyarakat (LM3) dapat dilaksanakan apabila kita melihat dari kedua kebutuhan dan potensi yang ada. Kondisi geografis dan pemberdayaan masyarakat melalui lembaga religius dapat dilakukan. Sangat memungkinkan apabila lahirnya LM3 di desa ini dengan konsentrasi “Pemberdayaan Pesantren sebagai lembaga Penelitian jamur tiram, Produksi Input jamur tiram dan pusat pelatihan dan pendidikan pertanian”.

Kerjasama antara gapoktan dan pesantren diharapkan mampu menjadi tonggak lembaga sosial ekonomi yang religius. Kebutuhan masyarakat diharapkan mampu dipenuhi melalui lembaga ini. Nilai religius diharapkan mampu menjadi jaminan pelaksanaan yang lebih bertanggung jawab.

Pemikiran ini sangat sederhanan dan lahir dari seorang mahasiswa yang sedang bergladikarya. Sangat teoritis dan dibutuhkan pegujian untuk mampu diimplementasikan ditengah masyarakat. Teori pada kasus tertentu sangat bertentangan dengan keadaan dilapangan. Mari kita lihat dengan berjalannya waktu.