Rabu, 19 Januari 2011
Kepemimpinan Bisnis : Profil ARIFIN PANIGORO RAJA MINYAK YANG AKTIF DI POLITIK
Sebelum Orde Baru tumbang tahun 1998, nama Arifin Panigoro hanya dikenal kalangan terbatas sebagai pengusaha di bidang perminyakan. Lingkaran pergaulannya lebih banyak dengan Pertamina dan pengusaha perminyakan internasional. Namun, ketika reformasi tengah “hamil tua” yang ditandai dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa, kesadaran politik Arifin bangkit. Ia telah menjadi simbol kebangkitan politik pengusaha. Tidak hanya itu, ia turut serta secara aktif membantu pergerakan mahasiswa, termasuk menyiapkan nasi bungkus untuk dikirim kepada mahasiswa yang tengah menggelar aksi di Gedung DPR Senayan, Jakarta.
Alumni Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 ini memulai usahanya tidak langsung menjadi bos di Meta Epsi Drilling Company (Medco). Sebelum tahun 1980-an, awalnya ia cuma sebagai kontraktor instalasi listrik door to door. Selanjutnya memulai proyek pemasangan pipa secara kecil-kecilan. Begitu ada proyek yang berdiameter besar, hal itu bukan porsi pengusaha lokal, melainkan pengusaha asing. Jadi, setiap Pertamina melakukan tender untuk pemasangan pipa besar, maka perusahaan asing yang menang karena untuk pipaline butuh peralatan berat. Peralatan itu umumnya hanya dimiliki oleh perusahaan asing.
Kondisi itu membuatnya berpikir, sebaiknya pengusaha lokal pun diberi kesempatan atau dibantu untuk bisa menangani pemasangan pipa besar dan tidak hanya diberi pekerjaan yang kecil-kecil. Tahun 1981 ia memberanikan diri untuk mulai masuk proyek pipanisasi yang berdiameter besar. Untuk pekerjaan itu, ia bekerja sama dengan perusahaan asing. Deal-nya, bila satu proyek selesai, bagi hasilnya adalah peralatan itu. Mitra setuju, proyek pun selesai. Sejak itu dengan alat tersebut ia mencari proyek ke mana-mana.
Selain menggandeng mitra asing, dukungan dan proteksi dari pemerintah amat diperlukan. Tidak mungkin pengusaha lokal yang baru berdiri dan tidak memiliki pengalaman dapat tiba-tiba bersaing dengan perusahaan asing yang berpengalaman di bidang perminyakan selama puluhan tahun. Menggandeng mitra luar dan dukungan pemerintah itu merupakan cara pengusaha lokal bisa membuka pintu ke bidang bisnis yang lebih luas. Dengan begitu, persaingan dengan perusahaan asing bisa dilakukan.
Semuanya dimulai dari tahapan membiasakan pengusaha lokal mengerjakan proyek besar. Contoh yang dialaminya dengan bendera usaha Medco tejadi pada tahun 1979-1980 ketika terjadi oil boom, Sekretariat Negara mengambil inisiatif untuk membangun kilang minyak karena ada tambahan anggaran. Pada saat itu, pemerintah berkeinginan untuk menyelipkan unsur pembinaan bagi pengusaha lokal, termasuk Medco. Saat itu, dalam pembangunan Kilang Cilacap, Medco dikawinkan dengan satu perusahaan asal Amerika Serikat. Akhirnya, Medco yang tidak tahu apa-apa tentang pemasangan pipa, menjadi mengerti.
Demikian juga saat memulai usaha pengeboran minyak tahun 1981, juga tak lepas dari bantuan pemerintah. Menurut Arifin, tahun itulah titik awal Medco menjadi besar. Pada waktu itu, ia memiliki kedekatan dengan Dirjen Migas Wiharso yang menginginkan ada pengusaha lokal dalam proyek jasa pengeboran. Kebetulan ada penyertaan modal pemerintah ke Pertamina, yang mau melakukan pengeboran gas di Sumatera Selatan.
Pemerintah mendorongnya untuk ikut tender, meskipun tidak punya peralatan ngebor. Pemerintah memanggil perusahaan asing yang berpeluang menang diminta untuk menyewakan alat, atau memakai orang-orang Medco sebagai mitra. Tujuan pemerintah waktu itu adalah untuk membesarkan pengusaha lokal. Namun, tanggapan dari perusahaan asing itu membuat Pak Wiharso tersingung dan batal. Lalu Pak Wiharso memintanya menggarap proyek itu sendirian. Arifin sama sekali tidak percaya dengan keputusan itu karena ia tidak memiliki pengalaman melakukan pengeboran.
Hasilnya, ia kelabakan karena proyek yang ditenderkan tahun 1979 sudah harus mulai dikerjakan pada tahun 1980. Dengan perasaan yakin, ia pun terima tantangan itu. Tahap awal ia instruksikan staf yang memiliki kemampuan bahasa Inggris untuk menjajaki pusat penjualan peralatan pengeboran di AS. Baru setelah ada kepastian dan diketahui harganya, ia terbang dari Jakarta ke Houston, AS. Perjalanan itu merupakan pengalaman pertamanya ke AS. Bermodal "bahasa Inggris Tarzan" dan uang 300.000 dollar AS, ia melakukan deal dengan pemilik barang. Hasilnya, deal berlangsung buruk.
Penjual barang meminta dalam waktu dua minggu barang seharga 4 juta dollar AS sudah dibayar, kalau tidak maka uang muka 300.000 dollar AS hangus. Ia terpaksa menerima syarat itu karena posisi tawarannya yang jelek. Setelah itu ia langsung terbang ke Indonesia. Saking panjangnya perjalanan dengan tiket ekonomi, tiba di Indonesia langsung sakit. Namun, dengan kondisi yang berat ia berusaha menemui Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh, lalu ke Pertamina.
Cara itu merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan karena ia masih merupakan pengusaha "bayi". Beruntung, Pak Piet Haryono dan Pak Wiharso memberikan rekomendasi, Medco patut dibantu. Dana pun cair di ambang batas perjanjian. Proyek pun bisa berjalan sesuai waktu yang ditentukan pemerintah.
Terhadap bantuan yang diberikan pemerintah itu, Arifin menilai sangat positif agar pengusaha lokal mampu bersaing. Namun, tetap harus dilakukan secara betul karena kalau tidak bisa, jadi salah arah. Di sinilah sulitnya, kadang proteksi itu memberikan hasil yang sebaliknya. Mumpung dikasih proteksi, pengusaha malah menjadi manja.
Setelah merintis usaha tahun 80-an, Medco memulai kejayaannya pada tahun 1990. Sebelum tahun 1990 Medco selalu bekerja sama dengan pihak ketiga dan untuk masuk ke sana bukan hanya masalah konsistensi ketekunan dan normatif, tetapi juga urusan garis tangan sebagai penentu. Sebab, untuk memburu satu sumur minyak bukan urusan ribuan dollar AS, tetapi jutaan dollar AS dan itu pun belum tentu ketemu minyaknya.
Namun, keinginan untuk bisa mandiri tetap ada, maka tahun 1990 untuk pertama kali Arifin membeli sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur, seharga 13 juta dollar AS. Ladang itu mampu berproduksi 4.000 barrel per hari (bph). Tahun 1995, beli lagi sumur minyak tertua PT Stanvac Indonesia milik ExxonMobil, yang sampai saat ini total produksi yang dimiliki Medco mencapai 80.000 bph.
Barangkali inilah prestasi paling gemilang dari Arifin dan perusahaannya, Meta Epsi Drilling Company (Medco). Pembelian Stanvac dimenangkan melalui tender yang kemudian namanya diubah menjadi Expan. Dengan pembelian itu, PT Stanvac tidak lagi dikuasai orang asing sebab perusahaan minyak tertua di Indonesia itu sudah dimiliki sepenuhnya oleh Medco.
Keberhasilan itu konon karena ada unsur tekanan dari pemerintah. Atas isu tersebut, Arifin membeberkan bahwa ia membeli perusahaan minyak itu melalui tender intemasional. Untuk bertemu langsung dengan orangnya saja tidak bisa. Baru setelah selesai pembelian, mereka bisa benar-benar bertemu. Ia membelinya secara langsung. Waktu itu cadangannya cuma 20 juta. Kemudian tahun 1996 produksi digenjot. Hasilnya, satu lapangan saja bisa mendapatkan 320 juta barel minyak.
Sukses di bidang perminyakan ternyata membuat Arifin berpikir lain masih dalam sektor tambang. Kenapa orang lokal tidak bisa berjaya di gas, seperti halnya di minyak. Padahal Indonesia kan salah satu produsen gas terbesar di dunia dan banyak industri yang berteriak kekurangan gas? Pernyataan inilah yang kerap membuatnya gundah. Jika kita lihat pada satu sisi, Indonesia menempati posisi nomor satu di dunia dalam ekspor LNG karena cadangan gas jauh lebih banyak dari minyak. Kini, cadangan sudah mencapai 170 triliun kaki kubik (TCF). Jika cadangan itu diproduksi, sampai 50 tahun pun tidak akan habis.
Gas itu ada di luar Pulau Jawa, tetapi tetap harus harus dibawa ke Pulau Jawa karena berapa pun harganya tetap menarik. Misalnya PLN, jika membeli gas harganya hanya 3 dollar per million metric british thermal unit (MMBTU) sudah sangat mewah. Namun, kalau disetarakan dengan BBM sama dengan 18 dollar AS per barrel. Harga itu sangat murah dibandingkan harga BBM yang harus dibayar PLN sebesar 30 dollar AS per barrel.
Namun, kembali lagi, kenapa gas tidak ada di Pulau Jawa, ini masalah kebijakan pemerintah. Jadi, mestinya Bappenas atau Menteri bidang Ekuin sama memikirkan, apakah terus bergantung minyak yang harganya 30 dollar AS per barrel. Medco menjual ke Pusri 1,8 dollar AS ditambah ongkos pipa 0,5 sen dollar, sudah bisa untung.
Inilah yang ia anggap kebijakan itu keliru. Demikian juga proyek yang dibangun oleh PT Perusahaan Gas Negara, yang berhasil menyambung pipa gas ke Singapura, setelah itu membangun pipa ke Pulau Jawa adalah kebijakan yang salah. Gas di Sumsel sebenarnya tak banyak lagi, jadi seharusnya dibawa ke Jawa saja. Tetapi, barangkali pemerintah memiliki pertimbangan harga di Singapura yang barangkali lebih baik.
Sukses di dunia bisnis membuatnya ikut berpetualang ke dunia politik. Awalnya ia melakukan pertemuan di Hotel Radisson Yogyakarta tahun 1997. Sebenarnya itu adalah pertemuan atau diskusi biasa. Namun, efeknya luar biasa, khususnya buat Arifin. Ia dituduh berupaya menggagalkan Sidang Umum MPR yang akan mengesahkan Soeharto menjadi Presiden ketujuh kalinya.
Ketika aksi mahasiswa semakin memanas, Arifin memberi bantuan konsumsi kepada para demonstran yang melakukan aksi di Gedung DPR. Ribuan kotak makanan dikirim. Tak heran jika kemudian muncul opini bahwa Arifin adalah tokoh di belakang aksi atau cukong para mahasiswa. Namun, Arifin tahu bahwa ia tidak sendiri. Gerakan reformasi merupakan suratan untuk memperbaiki keadaan.
Cobaan terhadap langkahnya di dunia politik masih berlanjut. Di era Presiden BJ Habibie, Arifin Panigoro kembali dijerat dengan tuduhan pidana korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai lebih dari Rp 1,8 triliun. Pada waktu itu, sejumlah kalangan percaya dijeratnya Arifin karena kedekatannya dengan gerakan mahasiswa. Bahkan pada masa pemerintahan Megawati, Arifin kembali dicoba untuk dijerat lewat perkara di kejaksaan. Sejak awal, dirinya yakin hanya dikerjain karena masih banyak pihak yang tidak senang dengan aktivitas politik yang digeluti.
Pengalamannya sebagai pengusaha membuat dia tidak kaget dengan praktik politik karena di dalamnya ada aktivitas melobi atau menggarap, juga money politics. Baginya, hari-hari uang adalah urusannya. Dari permulaan bekerja sebagai pengusaha, ia tidak pernah buat kesepakatan dengan fasilitas yang diperolehnya.
Demikian juga dengan urusan politik yang juga bagian dari kompromi lintas fraksi, kesepakatan semua kekuatan. Hal-hal begitu tidak selalu pakai uang, cukup pengertian bahwa kita punya sesuatu yang lebih besar, mari kita jalani sama-sama. Namun, perjalanan tidak selalu mulus, godaan banyak. Apalagi kekuatan politik sekarang sesudah zaman Soeharto, relatif pemainnya baru semua.
Meskipun terbiasa bermain dengan uang, namun Arifin mengaku memiliki batasan dalam memainkan uangnya. Sayangnya, proses politik atau proses pengambilan keputusan politik, ternyata uang yang berbicara. Padahal, meskipun ia seorang pebisnis, tetapi ia mau bisnis tanpa uang. Meskipun ia mengaku, cara bisnisnya memang tidak sebersih di AS. Di negara itu, mentraktir makan di atas 100 dollar AS sudah termasuk kategori sogokan. Ia tidak begitu amat, tetapi mendambakan good government and corporate governance, supaya bisa membuat bangsa ini ke depan lebih baik.
Ia berhitung, hari ini, uang dihabiskan untuk apa saja. Ia mau menghitung berapa total uang yang dikeluarkan dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia, yang akan membebani APBD setiap daerah. Jangan lupa, itu uang rakyat dari pajak. Kalau pemimpinnya main, tentu menggelembungkan dana proyek, tentu bawahan juga ikut ambil bagian. Dengan demikian korupsi akibat kedudukan bisa menimbulkan efek berantai, jika dana diselewengkan Rp 1 triliun, uang rakyat yang bakal hilang sekitar Rp 10 triliun untuk pemilihan kepala daerah.
Perkenalannya lebih mendalam dengan dunia politik adalah ketika partai-partai baru bermunculan tahun 1998-1999 setelah lengsernya Soeharto dari kursi presiden. Pada awalnya, Arifin menjalin hubungan dengan berbagai tokoh politik, baik tokoh masyarakat yang sudah lama dikenal maupun tokoh yang baru muncul. Saat deklarasi partai baru dilangsungkan, Arifin kerap menghadirinya. Namun, akhirnya pilihannya jatuh ke PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Bersama PDIP, Arifin pun melenggang menuju Senayan sebagai anggota DPR/MPR.
Untuk kategori pemain baru di dunia politik, sebenarnya karir politik Arifin terbilang bagus. Ia bisa duduk di jajaran DPP partai peraih suara terbanyak dalam pemilu. Ia pernah memimpin lintas fraksi, juga menjadi Ketua Fraksi PDIP MPR. Namun, dunia politik memang seperti cuaca yang cepat berubah. Arifin yang kerap dikenal sebagai anak “indekos” di partai berlambang banteng merah gemuk itu dianggap sudah kurang loyal kepada partainya dan mulai memihak lawan partai politiknya bernaung.
Arifin Panigoro yang dulu dianggap sebagai inspirator pembangunan jalan mulus Presiden Megawati menuju kursi kepresidenan, kini dianggap sebagai anak yang nakal. Isu pun merebak bahwa Arifin bakal dipecat. Namun, hingga saat ini, isu tersebut tidak berbuah menjadi kenyataan.
Terhadap isu tersebut, ia berpendapat kalau dirinya dikeluarkan, sepertinya ia harus membuat acara perpisahan dengan teman-teman. Tetapi, sebetulnya ia sudah memikirkan untuk keluar. Menurutnya, kalau dikeluarkan dirinya akan lebih senang. Seperti orang kerja, kalau berhenti tidak dapat pesangon, kalau diberhentikan malah dapat pesangon.
Meskipun siap untuk keluar, namun mengenai masa depan politiknya masih belum jelas, dan ia sendiri masih belum bisa mengira-ngira ke mana akan berlabuh. Hal itu terjadi karena dari tahun 1998 ia termasuk non-partisan, meskipun belakangan bergabung ke partai. Awalnya, ia datang pada setiap acara peresmian partai baru, sampai akhirnya bergabung dengan PDIP.
Arifin menganggap dirinya sebagai seorang oportunis yang iseng-iseng. Atau ia hanya ingin ada lima tahun periode yang lain, tidak hanya menjadi seorang pengusaha.Tetapi yang pasti, hematnya, konyol jika berhenti lalu serta-merta melawan PDIP, apalagi mau menggulingkan Megawati.
Jika benar-benar mundur dari dunia politik, kemungkinan ia akan relaksasi dan bermain golf di Paris atau mencari sekolah khusus untuk mereka yang sudah berumur di kota yang mempunyai makanan yang enak-enak. Mungkin enam bulan istirahat dulu.
Ia juga termasuk orang yang respek terhadap cendekiawan muslim Noercholish Madjid (Cak Nur). Menurutnya, Cak Nur itu bukan politikus, tetapi berminat jadi presiden. Ketika pertama kali mengemukakan minatnya jadi presiden Arifin termasuk orang yang awal-awal mendatangi dan bertanya, ternyata jawabannya memang mau. Pikirnya, siapa pun ini, dia dari unsur yang berbeda dibandingkan politikus yang lain. Dengan demikian bisa menjadi ukuran moral, sebab moral juga harus terukur. Paling tidak, politikus ada malu-malu sedikit. Jadi, pencalonan Cak Nur, sebenarnya dapat meningkatkan kualitas pertandingan.
Mengenai kehidupan keluarganya, suami dari Raisis A Panigoro cukup bahagia. Anak-anaknya sudah besar, bahkan yang tertua Maera Hanafiah sudah menikah dan sebentar lagi dikarunia anak kedua. Adapun yang bungsu Yaser Mairi sedang menambah pendidikan di Singapura pada bidang IT. Sekarang, meskipun agak telat, ia sadar, kalau dirinya kurang memberikan perhatian kepada anak-anak, karena jam kerja yang ngawur. Sekarang, sejak sekolah di luar negeri, anak-anaknya seakan-akan lupa dengan orang tua.
Meskipun anak-anak itu bersekolah di luar negeri, namun tidak ada yang secara khusus disiapkan menggantikannya. Anak pertamanya seorang ibu rumah tangga, anak kedua tidak dipersiapkan untuk itu. Prinsipnya, Medco bukan perusahaan keluarga, jadi sebaiknya dijalankan oleh profesional. Kebetulan, adiknya orang minyak. Jadi, Hilmi Panigoro duduk Medco.
Ia juga tidak akan memaksakan anak-anak untuk meneruskan usaha orang tuanya. Jika kapasitasnya sudah dipenuhi, silakan saja kalau mau meneruskan. Ia mengaku tidak takut jika perusahaannya dipegang oleh orang lain, toh semua aset, cadangan tidak ke mana-mana.
Meskipun kini sudah menjadi "raja minyak", suami dari Raisis A Panigoro ini mengaku, kaya itu relatif. Dia mengaku tak pernah menghitung, apakah dirinya kaya atau tidak, sebab semua hidup yang dijalani terus menggelinding. Baginya, disebut kaya itu relatif, kalau di Indonesia, seperti dirinya memang sudah menonjol. Sebagai orang yang beberapa kali dicekal untuk bepergian ke luar negeri, ia pun bertanya untuk apa kekayaan itu.
Sebagai orang yang romantis, ia mengaku merasa benar-benar kaya, kalau berada dalam satu konser musik yang benar-benar disukai. Seperti saat ini, setelah bisa menikmati alunan gamelan Jawa, maka setiap mendengar musik Jawa itu sebelum tidur, dia merasa kaya. Jadi, baginya kaya cukup sederhana, bukan harta melimpah atau kekuasaan.
Arifin juga sadar, suatu saat akan pensiun sebagai orang perminyakan. Namun, tidak berarti ia akan berdiam diri. Ia merencanakan untuk memfokuskan ke Medco yang lain yaitu di bidang agrobisnis. Sekarang ini orang sedang banyak bicara tentang pertanian. Masalah minyak goreng yang masih kurang kelapa sawitnya. Mungkin itu adalah salah satu pelabuhan yang akan ditujunya kemudian.
Dari berbagai Sumber
Sabtu, 15 Januari 2011
Saya pasti golput pemilu selanjutnya.
Apabila akan dilaksanakan PEMILU saat ini, saya pastikan tingkat “GOLPUT” masyarakat akan meningkat secara drastis. Bukti tersebut dapat dilihat dari tingkat kekecewaan masyarakat yang telah sampai pada puncaknya. Wakil rakyat tidak bertelinga, pemerintah belum bisa mewujudkan harapan dan hanya memberikan mimpi indah yang sangat jauh dari rill kehidupan. Bila selalu seperti ini, saya pasti golput di pemilu selanjutnya.
Informasi dari media masa yang dapat dipertanggungjawabkan, wakil rakyat hanya memilih memprioritaskan kepentingan pribadinya dibandingkan masyarakat. Mereka lebih ribut mempermasalahkan bahwa pembangunan gedung baru tidak bisa dibatalkan karena telah masuk APBN perubahan 2010 (kompas, 15/01), dibandingkan dengan menyuarakan kepentingan rakyat. Mereka lupa bahwa masih ada 100 juta masyarakat Indonesia dengan pendapatan dibawah 2 dolar per hari (ukuran batas kemiskinan). Ketika inflasi pangan telah mencapai 15 persen pada awal tahun 2011,ketua DPR lebih tertarik membicarakan gedung dengan 23 lantai beserta fasilitas kolam renangnya.
Pemerintah sudah saatnya melakukan hal yang rill didalam menghadapi masalah nasional Indonesia. Presiden selama ini menerima hasil Kuantitatif yang secara singkat menunjukan perbaikan didalam kehidupan bangsa. Akan tetapi sesuatu yang kuantitatif tersebut tidak seiring dengan kenyataan kualitatif sehingga masyarakat banyak mengira bahwa penyampaian pemerintah hanya sebuah kebohongan belaka. Hal tersebut dibuktikan pernyataan dari tokoh lintas agama yang jauh dari kepentingan politik bahwa pemerintah yang digawangi presiden dan para mentri menyampaiakan setidaknya 18 belas kebohongan. Tentu saja pemerintah harus menindaklanjuti masukan yang akan bermanfaat bagi kemajuan bangsa tersebut.
Pemerintah sebenarnya tidak 100 persen melakukan kebohongan tersebut. Sebagai contoh, data ekonomi secara kuantitatif dan agregat menunjukan kemajuan yang menggembirakan. PDB Indonesia telah mencapai Rp 6.900 Triliun dan masuk kedalam 20 negara dengan PDB terbesar di dunia. Inflasi hanya berkisar pada 5-6 persen. Pendapatan per kapita masyarakat telah mencapai $ 3000 dolar dan dapat dianggap sebagai negara yang memiliki kesejahteraan. Data tersebut dilaporkan oleh mentri kepada presidennya. Tentu Presiden akan bangga terhadap kemajuan ekonomi yang sangat signifikan tersebut.
Data tersebut membuktikan bahwa pemerintah telah berhasil, apabila kita buta dan tuli tidak melihat kualitatif kehidupan bangsa Indonesia. Hal pertama adalah apakah benar pendapatan masyarakat Indonesia telah $ 3000 dolar perkapita atau Rp 27 juta per tahun, sedangkan informasi rill secara statistik menunjukan bahwa ada 100 juta masyarakat dengan pendapatan dibawah $ 2 per hari (andi Suruji,2011). Di negeri ini banyak orang yang sangat kaya, tapi sangat banyak masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan dan segala problema hidupnya. Kedua adalah bahwa secara agregat inflasi Indonesia hanya berkisar pada 6,5 persen. Secara angka, infasi yang ada merupakan angka yang baik di masa beberapa negara lain mengalami resesi. Akan tetapi dengan sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih bergulat dalam pemenuhan kebutuhan pokok, inflasi yang terjadi telah membuat masyarakat berpikir untuk mengakhiri hidupnya denga bunuh diri. Inflasi pada pangan terlalu tinggi untuk disepelekan. Harga pangan secara keseluruhan telah mencapai inflasi 15,6 persen. Per komoditi, beras kualitas rendah telah naik sebesar 30,1 persen, gula mencapai 9,3 persen, minyak goring curah mencapai 28,6 persen, bawang merah 63,9 persen, dan paling spektakuler adalah cabai rawit 140,1 persen (kompas 15/01). Fakta ketiga yang paling menarik adalah pernyataan bahwa hutang Indonesia telah mengalami penurunan secara signifikan. Benar bahwa persentase hutang Indonesia telah turun signifikan dari 57 persen terhadap PDB pada tahun 2004, menjadi 27 persen pada 2010. Akan tetapi, secara nominal hutang Indonesia pada 2004 sebesar Rp 1.200 triliun meningkat menjadi Rp 1.500 triliun pada 2010. Jadi tetap bahwa hutang Indonesia meningkat, dan penurunan presentase disebabkan oleh peningkatan PDB yang dominan dikarenakan peningkatan konsumsi yang dibiayai oleh kredit.
Masyarakat pada masa ini telah cerdas dan mengetahui yang benar dan salah. Masalah sosial, ekonomi dan hukum terlunta-lunta dan hanya menjadi permainan politik di negara ini. Kasus tingginya bunuh diri, kerawanan dan kelangkaan pangan, kemiskinan, dan kasus mafia hukum “Gayus” telah membuat masyarakat jenuh dan membutuhkan perubahan. Dan jawabannya adalah kita, mahasiswa sebagai harapan perubahan tersebut.
Dengan fakta yang ada, tanpa perubahan yang berarti. Saya akan tetap golput pada pemilu berikutnya.
Rendi Seftian
Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis
Rabu, 29 Desember 2010
Membangun Bangsa 2011 : belajar dari Sepak Bola dan piala AFF 2010
Kekalahan Indonesia pada leg pertama (26 Desember 2010) dengan skor mencolok 0-3 dari Malaysia di Bukit Jalil maupun kemenangan leg kedua 2-1 di GBK, belum mampu mengantarkan Indonesia menjuarai piala AFF 2011. Akan tetapi telah memberikan pelajaran berharga tidak hanya bagi pemain, melainkan secara keseluruhan bagi bangsa Indonesia. Kekalahan ini tentu saja melukai semangat Indonesia yang sedang meletup mencapai puncaknya. Semangat yang membara dari seluruh elemen masyarakat Indonesia, seakan tersiram oleh air es yang ditumpahkan oleh 11 orang Malaysia yang menggiring bola ke gawang Markus Haris Maulana. Tentu selalu ada hikmah dari segala musibah dan selalu ada pelajaran dari segala jalan.
Pelajaran pertama adalah apakah bangsa Indonesia sudah siap menjadi juara dengan segala realita yang ada?. Saya merasa senang dan bangga apabila Indonesia mampu menjadi juara AFF 2010, namun sekaligus khawatir. Bangga karena pada akhirnya Indonesia bisa juara setelah hanya menjadi finalis secara beruntun pada 2000,2002, dan 2004. Khawatir karena sepertinya Indonesia belum mampu menjadi seorang juara. Indonesia kembali tidak menjuarai piala AFF, saya mengambil kesimpulan bahwa Tuhan telah ikut andil didalam menentukan siapa juaranya. Karena Tuhan mengetahui apa yang terbaik bagi Bangsa Indonesia
Hal pertama yang saya khawatirkan adalah sikap masyarakat Indonesia yang terlalu berlebihan didalam menyikapi partai Final AFF 2010.Hal ini bahkan ditunjukan media yang berlebihan, yang tentunya mengganggu pemain. Akibat dari sikap berlebihan, menunjukan sebagian masyarakat Indonesia belum mampu bersikap dewasa. Hal ini dibuktikan dengan kericuhan didalam pendistribusian tiket yang disebabkan panitia lokal AFF dan PSSI yang tidak bersikap professional. Niat baik yang berlebihan tersebut mengakibatkan kerusakan yang terjadi di Glora Bung Karno (GBK) yang merupakan salah satu Heritage yang dimiliki oleh Indonesia.
Kekhawatiran kedua adalah semakin terbiasanya masyarakat Indonesia untuk memproleh segala sesuatu dengan cara yang instan tanpa harus bekerja lebih keras. Hal ini ditunjukan dengan rencana penambahan naturalisasi pemain sebanyak lima orang oleh PSSI. Diakui memang, dengan penambahan Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim memberikan warna tersendiri dengan meningkatnya grafik permainan dan semangat secara signifikan. Akan tetapi, layaknya kurva produksi klasik pada ilmu ekonomi, bahwa dengan penambahan akan meningkatkan produksi dan akan menurun apabila telah menempuh titik produksi maksimum. Hal tersebut dibuktikan dengan prestasi Singapura yang mengandalkan pemain naturalisasi mendapatkan prestasi yang sangat jeblok di AFF 2010 dibandingkan pada turnamen sebelumnya. Seharusnya PSSI lebih DEWASA dengan menekankan pembinaan pemain muda, apalagi setelah mendapatkan SOGOKAN politik dari salah satu ketua partai politik seluas 25 hektar untuk camp pembinaan. Mungkin wajar singapura melakukan naturalisasi mengingat hanya berpenduduk lima juta orang, tapi apakah hal yang sangat sulit mencari 11 orang yang akan dididik menggiring si kulit bundar dari 220 juta penduduk?.
Kekhawatiran ketiga adalah semakin besar kepalanya seorang ketua PSSI (saya tidak akan menyebut nama, nanti dianggap sebagai pencemaran nama yang sudah tercemar) dan tidak mau turun dari jabatannya. Saya katakan demikian karena siapa penggemar sepak bola yang tidak menginginkan penggantian ketua PSSI, setelah sepak terjangnya yang sangat jauh tidak professional. Sikap besar kepalanya adalah membohongi FIFA pada 2007 mengenai MUNASLUB dengan agenda pemilihan ketua PSSI dengan hasil tetap kokohnya dia di singgasana ketua PSSI. Sikap besar kepala lainya ditunjukan dengan manuver politik yang sebenarnya tidak perlu setelah kemenangan atas Filipina yang tentunya secara langsung aspek non teknis tersebut mempengaruhi tim garuda. Sikap besar kepalanya teruji pula ketika terbukti sebagai tersangka korupsi dan mencetak sejarah sebagai satu-satunya ketua PSSI dan ketua federasi sepak bola di dunia yang tetap memimpin dibelakang jeruji besi. Bila kita pikir lebih jauh, apa jadinya apabila Indonesia menang di piala AFF 2010?. Mau dibawa kemana PSSI kita?
Pelajaran apa yang bisa diambil untuk membangun bangsa?
Piala AFF tentunya memberikan pelajaran besar, terutama didalam kita sebagai generasi muda membangun bangsa. Pelajaran pertama yang bisa diambil adalah sikap yang professional bagi kita generasi muda didalam menjalani segala aktifitas hidup. Tidak berlebihan, karena segala yang berlebihan tentu tidak baik. Profesional dalam artian melakukan segala hal dengan orientiasi tujuan utama yang tentunya mulia. Bukan orientasi hanya mementingkan satu golongan bahkan partai politik, akan tetapi tetap mengutamakan kepentingan bangsa. Salah satu sikap tidak professional didalam sepak bola Indonesia yang jangan pernah dicontoh adalah politisasi yang terjadi. Hal ini ditunjukan dengan poster tidak penting politikus yang bahkan terpampang di Stadion Negara tetangga Bukit Jalil, Malaysia. Janganlah segala sesuatu itu di politisasi, karea politik itu kejam. Kita sama-sama tahu, bahwa didalam politik bahkan tidak ada sahabat abadi dan yang ada hanya kepentingan abadi.
Pelajaran kedua adalah bagaimana di masa depan kita tidak pernah memberikan sedikit celah pun terhadap korupsi di negeri ini. Tidak ada lagi mafia yang dengan mudahnya mempermainkan segala elemen bangsa. Ini perlu suatu keseriusan, tidak hanya dari masyarakat terutama mahasiswa yang selalu berteriak dijalan, melainkan pemerintah dengan segala kemampuannya. Sayang pemerintah sepertinya tidak serius untuk melakukannya. Presiden SBY hanya berdiam diri, ketika suporter Indonesia meminta Ketua PSSI menjabat untuk mundur dari PSSI pada saat pertandingan Indonesia vs Uruguay beberapa waktu lalu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ketua PSSI yang sedang menjabat adalah mafia pelaku jual beli trofi liga Indonesia dengan tujuan memenangi pilkada.
Pelajaran ketiga tentunya bagaimana kita menyikapi suatu prestasi dan makna keberhasilan sebagai suatu proses yang panjang dan merupakan hasil kerja keras. Indonesia akan menjadi Negara adidaya, apabila menjalani proses yang tepat walaupun memerlukan waktu yang panjang. Kita mungkin mengakui bahwa Amerika Serikat merupakan negara adidaya dan itu diperoleh tidak dengan waktu yang singkat bahkan pernah mengalami perang saudara sebelum dapat menjadi seperti sekarang. Penambahan pemain naturalisasi memberikan efek positif, akan tetapi hanya berdampak sementara. Saya memberikan apresiasi yang besar kepada Malaysia dengan “100 persen Malaysia”-nya seperti yang ditampilkan spanduk di Bukit Jalil. Mereka memilih membina generasi muda yang lebih Intensif guna meningkatkan prestasinya. Sesungguhnya mereka mengilhami arti bekerja keras, yang tentunya mendidik masyarakatnya untuk siap berusaha didalam membangun bangsanya.
Dari sepak bola, banyak kita bisa belajar terutama didalam menyikapi hidup. Seperti papatah bijaksana mengatakan bahwa bola itu bundar, segala sesuatu itu bisa terjadi. Maka jangan pernah kita pesimis didalam menjalani kehidupan, karena dengan usaha dan kerja keras tidak ada satu pun yang tidak mungkin. Dari sepak bola kita pula belajar, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik tentunya. Tentunya segala sesuatu memerlukan proses didalam mencapai segala sesuatu. Kesimpulan yang saya bisa ambil adalah pemain TIMNAS layak untuk juara, akan tetapi Bangsa Indonesia, terutama pemerintah dan PSSI belum siap untuk juara.
Rendi Seftian
Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis
Kamis, 14 Oktober 2010
Pembangunan Desa, Ketahanan Pangan, dan FTA
“Ketahanan pangan adalah ketersediaan dan konsumsi pangan yang bertumbuh secara berkelanjutan dan terjangkau harganya oleh masyarakat. Ketahanan pangan itu bisa pada level nasional, regional, lokal, dan keluarga. Hanya dengan ketahanan pangan yang bertumbuh secara berkelanjutan dan keadilan yanb dapat memberikan kesejahteraan kepada petani dan penduduk Indonesia” (Bungaran Saragih, 2007).
Pengertian diatas merupakan pernyataan yang disampaikan Prof.DR.Bungaran Saragih, M.Ec pada saat memberikan penjelasan mengenai ketahanan pangan. Beliau berpendapat bahwa ketahanan pangan dapat dilakukan pada berbagai aspek skala yang pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasar manusia secara adil. Pembangunan ketahanan akan pangan dapat terlaksana, bila seluruh pihak bersinergis dalam mensejahterakan petani sebagai tombak utama menjaga ketahanan pangan bangsa.
Adanya cerita kelaparan di Yahukimo (Papua) dan ratusan balita gizi buruk diberbagai daerah bahkan disekitar pusat pemerintahan Indonesia, merupakan sebuah kontradiktif dengan harapan pemerintah dalam melakukan ekspor beras pada 2010 dan pernyataan pemerintah bahwa Indonesia dalam keadaan swasembada beras. Hal tersebut menunjukan bahwa ketersediaan pangan kadang tidak berkorelasi secara langsung dengan ketahanan pangan ditingkat masyarakat. Inti utama dari penguatan ketahanan pangan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat disegala aspek kehidupan sehingga adanya kemampuan dalam mengakses pangan.
FTA dan kenyataan pangan Indonesia
Upaya peningkatan pertanian guna menghadapi persaingan pasar luar negeri adalah dengan menerapkan kebijakan proteksi dan promosi. Proteksi adalah menjaga pasar pertanian lokal dengan kebijakan tarif maupun kuota oleh pemerintah dan promosi adalah memperkenalan dan menanamkan kebanggaan pada masyarakat dalam mengkonsumsi produk pertanian dalam negeri. Akan tetapi, dengan diberlakukannya ACFTA pada 2010 dan FTA yang akan diberlakukan oleh WTO akan menghapuskan kebijakan proteksi pada titik nadirnya, sedangkan saat ini promosi belum mampu memaksimalkan fungsinya seperti seharusnya. Keunggulan komparatif dan kompetitif suatu Negara akan menjadi penentu penguasaan akan dunia baru yang dikenal dengan perdagangan bebas.
Pada dasarnya, WTO dengan free trade area-ya merupakan suatu keadilan bagi Negara bagi Negara maju akan tetapi sebuah perjalanan kebangkrutan dan ketergantungan bagi Negara berkembang seperti Indonesia. Pada umumnya, dinegara berkembang sektor pertanian tidak mendapat intensif ekonomi yang memadai. Input produksi yang mahal karena impor dari negara maju, pasar yang terfragmentasi, dan harga rendah yang tidak merangsang produksi mengakibatkan pertanian merupakan kegiatan ekonomi dengan biaya tinggi. Sedangkn pada Negara maju, pertanian diperhatikan dengan subsidi yang tinggi dan mengakibatkan harga yang kompetitif di pasar dunia.
Merupakan sebuah realita yang ada bahwa sebelum dibukanya keran pasar bebas, bangsa Indonesia telah memiliki ketergantungan terhadap sumber pangan luar negeri. Beras sebagai makanan pokok masyarakat Indonesia, telah dioptimalkan dalam pembudidayaan akan tetapi tidak jarang kita masih melakukan impor. Swasembada beras yang kita capai, memiliki sisi lain bahwa Negara kita masih terancam pada kerawanan pangan. Selain itu, sumber utama pangan lainnya masih sangat tergantung pada impor. Diperkirakan, 4,5-5 juta ton biji gandum dan 100 persen diantaranya merupakan impor dari Negara lain. Bahkan, Presiden beserta para mentri melakukan rapat terbatas dengan sangat mendadak hanya karena tempe dan tahu. Mengingat tempe dan tahu menggantungkan sumber input dari kedelai impor. Sebuah keironisan dalam menjaga ketahanan pangan bangsa ini.
Keunggulan komparatif yang dimiliki oleh Indonesia dalam waktu dekat akan tereliminasi oleh keunggulan kompetitif negara maju dalam pasar pangan lokal maupun internasional. Harga yang lebih rendah produk pertanian impor akan menggerus produksi pertanian lokal dan akan mengakibatkan Indonesia menjadi negara pengimpor pangan terbesar dunia. Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan akan tumbuh hingga lebih dari 350 juta jiwa (bila program KB sukses) pada 2035, sedangkan pertanian Indonesia semakin memprihatinkan dengan luas lahan maupun teknologi yang sangat terbatas hanya akan menjadi santapan empuk dari perdagangan bebas dunia.
Pembangunan desa dan ketahanan pangan
Tombak utama dari ketahanan pangan adalah kesejahteran petani yang sebagian besar hidup di pedesaan. Angkatan kerja terserap 41 persen dan sebagian besar ( 16-17 persen dari penduduk Indonesia) bertempat tinggal dipedesaan dalam kondisi sangat memprihatinkan dengan mata pencarian dibidang pertanian. Pembangunan desa dan kesejahteraan petani merupakan harga mati dalam mempertahankan ketahanan pangan lokal Indonesia. Intensif ekonomi yang akan membawa petani menuju kesejahteraan, merupakan intensif yang tepat dalam peningkatan produksi pangan dalam negeri.
Sistem Agribisnis terpadu harus diterapkan dalam suatu kawasan di pedesaan, sehingga menciptakan kegiatan ekonomi biaya rendah dalam menghasilkan produk pertanian. Pembangunan input pertanian yang murah dan dekat dengan pedesaan, infrastruktur yang memadai, maupun agroindustri maupun pasar merupakan kebutuhan pokok yang dapat dipusatkan pada pedesaan. Hal tersebut selain akan memandirikan kita dalam ketahanan pangan, akan mensukseskan kegiatan otonomi daerah dan masalah sosial lainnya sepeti urbanisasi dan pembukaan lapangan kerja.
Keunggulan komparatif yang dimiliki oleh alam Indonesia sudah saatnya diarahkan kepada kombinasi terhadap keunggulan kompetitif. Sangat sulit bila harapan mampu unggul secara kompetitif bila kita masih tergantung kepada pihak luar. Sektor input memerlukan penguatan, sehingga input pada budidaya akan lebih efisien dan akan memberikan manfaat rendahnya biaya produksi oleh petani. Hal ini akan berefek pada harga kompetitif produk pertanian terutama pangan dipasar domestik maupun Internasional.
Diversifikasi pangan kearifan pangan lokal menjadi kunci sukses lainnya dalam menciptakan ketahanan pangan. Pada dasarnya setiap daerah memiliki alternatif pangan yang sesuai dengan kebudayaan lokalnya, akan tetapi kesalahan kebijakan rejim yang lalu telah mengarahkan pada standarisasi pangan yang sangat merugikan. Penelitian variasi produk pangan lokal dan sosialisasi pentingnya pangan lokal merupakan langkah awal yang harus dilakukan pemerintah dalam mencoba diversifikasi pangan.
Inti dari upaya peningkatan ketahanan pangan adalah revitalisasi pertanian dalam bentuk keseluruhan. Keseluruhan dalam artian revitalisasi meliputi penguatan industri hulu yang mandiri, budidaya yang diubah dari subsisten menjadi bisnis, penguatan agroindustri, pemasaran yang ditunjang dengan infrastruktur yang baik, sistem penunjang yang memberikan kontribusi yang tepat, dan peningkatan tingkat pendidikan masyarakat desa sebagai aktor utama dalam pertanian primer.
Rabu, 13 Oktober 2010
Kami adalah Indonesia
Kami hanya kaum yang disisihkan.
Cita-cita bagi kami, hanya sebagai dongeng menjelang tidur.
Berbaju rapih dan duduk dibelakang meja.
Hanya mimpi, hingga saat ini kami tak tahu makna rentetan huruf diatas toko.
Bagi kami, masihkah ada hari esok yang menanti ?
Kami hanya kaum yang dipinggirkan.
Dengan perut buncit dan mata yang cekung.
Sesuap nasi, adalah mewah bila tepat waktu.
Hanya angan, hingga saat ini hidup kami hanya penolakan.
Adakah harapan untuk sebuah kehidupan.
Kami adalah Indonesia.
Tidak merasakan merdeka, walau kata mereka merdeka.
Terpinggirkan dan tersisihkan.
Karena kami adalah Indonesia.
Langganan:
Postingan (Atom)




